Subscribe Us

FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA DIDIK BARU TKQ & TPQ RAUDLOTUL MUHLISIN

Potensi Wisata Alam Gunung Gumitir Sebagai Akses Perjalanan Jember- Banyuwangi

Ditengah kesunyian, kucoba untuk berpikir ulang kembali, mereview pikiran lama, meski ku masih belum mengerti bagaimana cerita yang sesungguhnya, tentang jalan yang penuh dengan tanjakan dan berliku ini, sampai-sampai membelah gunung menuju ke Banyuwangi, bahkan ini meruapakan salah satu akses menuju ke pulau Dewata. 

Diatas gunung Gumitir, semilir angin sepoi-sepoi menari-nari, sepertinya hendak menyapa pada kesunyian. Mengapa semua ada, sementara pikiran harus kembali kemasa lampau, dimana Jalan Gumitir ini, kemungkinan sudah ada sejak zaman kerajaan, yang kemudian diperbaharui kembali pada masa penjajahan Belanda, bahkan gunung Gumitir ini memiliki terowongan yang melubangi gunung untuk akses jalannya kereta api, meski peralatan tidak secanggih hari ini, namun begitu dahsyatnya bangsa lain mencoba mengeruk kekayaan kita dengan cara membangun akses transportasi yang memadai.
Diatas ketinggian gunung Gumitir ini, kita melihat jauh kesana, betapa bangsa kita ini sebenarnya sangat kaya raya dan sangat melimpah, namun masyarakatnya masih banyak yang hidup di garis kemiskinan. Siapa yang salah? Pemerintah! Masyarakat! Atau sistem tata kelola sumber daya alam yang cenderung terjadi perampokan secara sistemik, masive, dan contonuitas, sehingga pemenangnya ada para pemodal dengan mencoba melakukan kapitalisasi sumber daya alam dan sumber daya manusia, sehingga yang lemah menjadi tak berdaya.

Ditengah ketidakberdayaan dan hidup digaris kemiskinan, kadangkala hati bertanya-tanya, kepada orang-orang yang bekerja dengan meminta-minta di pinggir jalan, sepanjang jalan Gumitir ini, meski mereka bisa dikatakan menjual jasa dengan menunjukkan jalan yang cukup berbahaya, namun kulihat mereka,. Seberapakah pendapatan mereka dalam sehari, dengan memohon belas kasihan para pengguna jalan yang sedang lewat? Akupun tidak habis berpikir, apakah di gunung Gumitir yang SDA nya milik dua pemerintah kabupaten Jember dan Banyuwangi ini, tidak adakah lapangan pekerjaan yang lebih layak dan lebih terhormat untuk mereka!? Akupun tiada mengerti, hanya bisa mengelus dada, kasihan sekali nasib mereka!!!!
Masyarakat kita kebanyakan adalah buruh, terlepas apakah itu buruh tani, buruh kebun, atau buruh bangunan dengan upah dibawah seratus ribu, namun mereka tetap bersyukur karena masih menemukan pekerjaan, dalam konstek saat ini mereka bekerja dengan upah yang tidak begitu besar, setidaknya mereka mampu mencukupi kebutuhan keluarga, meski hal itu hanya pas-pas an saja.

Bagaimana dengan nasib anak cucu kita kedepan, sementara kapitalisasi, proxy ware, terus saja menggerogoti tubuh bangsa ini, pengentasan kemiskinan, dan pengentasan sumber daya manusia, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang acapkali tidak berpihak pada masyarakat, sehingga pada aspek hukum pun cenderung tumpang tindih, tajam kebawah, dan tumpul keatas...oh sudahlah, apa kata yang memiliki kebijakan sudah..
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments