Subscribe Us

FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA DIDIK BARU TKQ & TPQ RAUDLOTUL MUHLISIN

Tiga Model Kajian Islam

Islam yang tumbuh dan berkembang di tanah air Indonesia ini memiliki karakteristik tersendiri dibanding Islam yang tumbuh dan berkembang di negara-negara lain di dunia. Meski pada pada awalnya mayoritas bangsa Indonesia memeluk agama Hindu dan Budha --setidaknya hal ini dapat ditelusuri dari berbagai macam peninggalan artefak yang unik dan kuno, seperti candi--, namun seiring dengan perjalanan sejarah, agama Islam justru menjadi agama yang mayoritas di republik ini.
Penulis pernah melakukan perjalanan ke Bali bersama beberapa Mahasiswa PA (Perbandingan Agama) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dalam rangka mendalami Hinduisme di Pulau Dewata tersebut. Bertemu dengan tokoh-tokoh agama Hindu di beberapa Pura dan berdialog dengan Pimpinan Universitas Hindu di Bali tentang agama Hindu untuk memperkaya wawasan tentang agama Hindu. Di luar dugaan muncul statemen dari salah satu tokoh agama Hindu tersebut yang mempersoalkan, bahwa sesungguhnya kami dahulu merupakan agama mayoritas di Indonesia, bila ditinjau dari sejarah justru Islam-lah yang “merampas” atau ber’ekspansi’ di seluruh wilayah republik ini, sehingga agama kami menjadi minoritas. Berdasarkan statement dari salah satu tokoh tersebut, penulis merasa tergelitik untuk menjelaskan kepada beliau bahwa Islam di Indonesia ini sesungguhnya sangat menghargai perbedaan keyakinan dengan agama lain, memang bila menelusuri sejarah Indonesia kita menemukan pada saat sekarang ini justru Islam-lah yang menjadi mayoritas agama di republik ini, tetapi perlu diketahui bahwa kami tidak pernah mengajak orang masuk Islam dengan cara-cara kekerasan (anarkisme), justru Islam menyebar dengan cara damai dengan cara-cara yang santun, tidak pernah dengan cara menumpahkan darah di republik ini. Para penyebar Islam di pulau Jawa yang dikenal dengan Wali Songo, tidak pernah memerintahkan untuk memerangi kepercayaan masyarakat Indonesia dahulu yang memeluk agama Hindu dan Budha dengan cara kekerasan, justru agama Islam menyebar dengan cara yang santun dan damai bahkan dengan kesadaran dari individu manusia itu sendiri yang mendapatkan pencerahan spiritual kepada keimanan atas tauhid.
Seiring perjalanan waktu pada saat sekarang ini maka agama Islam akhirnya memainkan peranan yang urgen dalam pergerakan roda kehidupan manusia di negara ini. berbagai pemikiran keagamaan tentang Islam yang berkembang bersamaan dengan perkembangan di lembaga-lembaga pendidikan telah mewarnai agama Islam itu sendiri. Berbagai macam model pendekatan dalam memahami Islam juga bermunculan dengan varian-varian tersendiri. Mulai model kajian Islam yang dilakukan oleh lembaga pesantren, sekolah, bahkan perguruan tinggi.  Hasilnya pun cukup variatif,  mulai dari model Islam yang tekstualis sampai kepada model memahami Islam yang kontekstualis. Abudin Nata juga mencoba memahami model-model perilaku keagamaan dalam agama Islam dengan membaginya menjadi bermacam-macam, seperti Islam Pluralis, Islam Fundamentalis, Islam Strukturalis, Islam Liberal, Islam Tradisional, Islam Modern, Islam Kultural, Islam Inklusif, Islam Eksklusif, dan berbagai varian model yang lainnya.
Tetapi bila kita mencoba melakukan observasi terhadap kajian Islam di Indonesia, maka mungkin ada benarnya tawaran dan Ulil Abshar Abdalla yang mencoba membagi 3 model mainstream kajian Islam di Indonesia, yang pertama adalah pertama yaitu model “faith based Islamic studies”, kajian Islam yang berbasis iman. Kajian Islam semacam ini biasa kita jumpai di pesantren atau madrasah. Lembaga-lembaga ini bisa kita sebut sebagai semacam “Islamic seminaries”, karena di dalam lembaga tersebut pada umumnya mengajarkan kepada penguatan keimanan dan ketauhidan. Yang kedua model “faith based”, yaitu berbasis iman dan propagasi, tetapi sudah mulai mengadopsi pendekatan-pendekatan ilmiah yang beragam. Kajian ini juga sudah mulai meletakkan “Islam” bukan sekedar sebagai iman saja, tetapi obyek yang dikaji. Di sini, Islam sudah diletakkan dalam suatu jarak untuk kemudian ditelaah secara “epistemologis” dengan pendekatan tertentu. Jenis kedua ini banyak dilakukan dalam kajian Islam yang berlangsung di perguruan tinggi Islam seperti IAIN, STAIN atau UIN.
Model ketiga adalah kajian atas Islam yang dikerjakan dalam model “religious studies” yang berkembang di Barat, dan bahkan mulai ditiru oleh para sarjana di Indonesia. Di sana, Islam sudah sepenuhnya dianggap sebagai “obyek kajian” yang sama kedudukannya dengan obyek-obyek kajian yang lain. Sebagai “obyek”, Islam tak beda dengan “masyarakat” yang menjadi kajian ilmu sosiologi, atau partikel dan benda-benda fisik solid yang menjadi kajian ilmu fisika. Sama dengan tubuh yang menjadi kajian ilmu anatomi dalam kedokteran. Dalam kajian semacam ini, faith/iman sama sekali bukan prasyarat utama. Kajian ini tidak berbasis iman, tetapi berbasis metode ilmiah yang kurang lebih obyektif. Karena itulah, seorang non-Muslim atau bahkan ateis bisa menjadi pelaku kajian Islam yang “scientific” semacam ini. Sebagaimana seorang pengkaji agama Hindu tidak harus seseorang yang mengimani ajaran agama itu. Kajian Islam model ketiga ini sifatnya saintifik dan “non-faith based”. Kalangan yang datang dari tradisi kajian Islam ala madrasah akan terheran-heran: “Kok bisa orang Kristen menguasai ilmu tafsir dan kajian Quran seperti ulama? Kenapa dia tak masuk Islam saja?” Seorang santri madrasah masih sulit membayangkan keterpisahan antara pengkaji dan obyek yang dikaji. Mereka terbiasa dengan semacam “unionisme epistemologis”, kesatuan antara “al-‘alim” dan “al-ma’lum”.
Sesungguhnya bila kita telusuri secara mendalam, maka kita mungkin dapat menemukan berbagai kelebihan dan kelemahan dari berbagai aspek pendekatan model-model kajian ke-Islaman di Indonesia. Menjadi tugas kita untuk menelusuri kelebihan dan kelemahan di setiap aspek pendekatan tersebut. Dan kita seharusnya sudah mulai menghargai berbagai perbedaan yang terus berkembang seiring perkembangan zaman yang terus bergerak. Seorang “santri” atau pemikir muslim harus terus mengembangkan kajian Islam dengan tetap menghargai perbedaan yang memang telah Allah ciptakan di dunia ini.
Wallahu a’lam bi shawab.
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments