Subscribe Us

FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA DIDIK BARU TKQ & TPQ RAUDLOTUL MUHLISIN

Romansa Politik Dalam Perang Dingin Merebut Kekuasaan

Kita sudah seringkali mendengar, bahwa ada tiga elemen yang tak terpisahkan dalam setiap perang dingin yang berlangsung dalam merebut kekuasaan, apa saja tiga elemen tersebut? Yakni Tahta atau kekuasaan, Wanita atau perempuan sebagai bagian dari tonggak perubahan, dan yang terakhir adalah Harta atau kapital sebagai alat untuk meraih kekuasaan itu sendiri.

Perang dingin itu tidak akan pernah usai, baik bagi pemenang maupun bagi yang kalah dalam pertarungan, oleh karenanya mari kita kaji betul tiga elemen yang seringkali kita dengar, bahkan kita sendiri acapkali mengucapkannya.

1. Kekuasaan

Manusialah memang sudah di takdirkan untuk menjadi seorang Kholifah dimuka bumi ini, untuk menjadi seorang Kholifah atau pemimpin dimuka bumi ini, butuh waktu dan proses. Masing-masing individu memilki kemampuan untuk mengorganisir dan menjadikan dirinya sebagai seorang pemimpin bagi kelompoknya, nah ini merupakan kekuasaan yang paling rendah, yaitu menjadi pemimpin bagi keluarga maupun dalam kelompok-kelompok masyarakat. Lalu bagaimana untuk menjadi pemimpin bagi masyarakat yang lebih besar dengan berbagai macam kelompok, dan kepentingan yang berbeda-beda satu sama lain? Disinilah unsur politik perlu dimainkan, baik bagi organisasi keagamaan, orpol, maupun kelompok masyarakat secara umum.

Tahun 2020 ini, dimana situasi dalam masa Pandemi, berbagai macam pendapat dan spekulasi banyak terjadi! Pilkada serentak di Indonesia saat ini sudah dimulai, dan muncullah berbagai kontestan menunjukkan dirinya melalui baleho atau banner untuk memperkenalkan dirinya, untuk menjadi popular, serta untuk mencari simpati masyarakat.

Banner para tokoh politik yang menawarkan diri dengan berbagai macam program, seperti Jember Jenggirat dengan menawarkan progam 1 dusun 300 SD 500 juta untuk pembangunan, ada pula yang menawarkan 100.000 lapangan pekerjaan, jika terpilih menjadi orang nomor 1 di Jember, ada pula yang menawarkan perubahan yang lebih baik, ada yang memunculkan slogan wes wayahe mbenahi Jember, dan ada pula mencari simpati masyarakat dengan memanfaatkan uang Negara.

Terlepas dari itu semua para kontestan ingin merebut kursi kekuasaan dengan caranya masing-masing. Kelompok perempuan, ASN, kelompok keagamaan, LSM, juga tidak tinggal diam, merekapun berlomba-lomba mencari pengikut dan mempengaruhi masyarakat dengan program bantuan baik bantuan dari pemerintah maupun bantuan dari hasil swadaya kelompok itu sendiri, dengan tujuan supaya kos politik menjadi rendah dan ditawarkan pada kontestan menjadi mahal harganya, disitulah terjadi kapitalisasi dan eksploitasi kemiskinan untuk mendapatkan simpati, supaya mudah diarahkan pada salah satu calon yang dikehendaki menjadi orang nomor 1.

Partai politik juga memiliki kepentingan yang sama, yakni supaya rekomendasi tidak salah sasaran, tentu para punggawa di atas menggodok nama-nama kontestan yang diperkirakan jalannya cukup mulus untuk meraih 1 kursi yang diperebutkan. Disamping itu pula pragmatisme juga terjadi di tubuh orpol yang katanya sebagai organisasi yang akan membawa aspirasi rakyat itu. Maksud dari pragmatisme itu, meski ada beberapa yang mengatakan bahwa partai kami tanpa mahar, tetapi pada sisi yang lain, mereka juga melihat kemampuan dan kapasitas masing-masing calon, baik kemampuan diri secara personal, maupun kemampuan secara kapital, karena faktanya dalam setiap kontestan tidak ada satupun yang gratis.

2. Harta

Kapital merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah pertarungan, mau tidak mau, suka tidak suka kapital merupakan suatu keharusan yang wajib di keluarkan oleh para kontestan, terlepas apakah itu keluar dari kantong pribadi, maupun harus keluar dari pada cukong atau investor.

Kekuatan kapital tentu harus dibarengi dengan strategi yang matang. Ketika kita berbica kabupaten Jember, sebagai atmosfer politik yang seringkali menjadi perbincangan para tokoh nasional, maka tidak bisa kita pungkiri ada unsur game yang di mainkan mulai dari tingkat paling atas, pada level menengah, maupun pada level grassroot. Peran partai politik yang memiliki unsur kader sampai pada tingkat ranting itu, tentu tidak bisa kemudian dipandang sebelah mata saja, karena orpol yang memposisikan sebagai lidah panjang kepentingan aspirasi masyarakat, memiliki kekuatan yang cukup besar, bahkan hal itu mampu menggulingkan petahana yang dalam konstek saat ini sudah mendaftarkan diri melalui jalur independen, meskipun petahana masih membuka ruang bagi parpol untuk bergabung dan menciptakan atmosfer pemimpin perubahan.

Jember dengan kepadatan penduduk yang hampir dua juta jiwa, tersebar di 31 kecamatan, dan 248 desa atau kelurahan memiliki corak dan budaya yang berbeda-beda. Jember di era sekarang mencoba mempopulerkan sebagai kota Pandhalungan, dengan beragam penduduknya yang bermacam-macam. Namun secara mayoritas penduduk Jember terdiri dari Etnis Madura dan Jawa, mulai zaman kerajaan, hingga sampai saat ini.

Perbedaan etnis tentu akan merambah pada sosial budaya, ras dan keyakinan. Penduduk Jember secara mayoritas pemeluk agam Islam, meskipun di dalamnya ada Kristen, Budha, Konghucu, katolik, dan ada pula Hindu sebagai agama nenek moyang.

Dalam konstek politik, hal tersebut bukan berarti menjadi suatu persoalan, namun lebih pada bagaimana para tokoh politik mampu menyatukan beragam kepentingan, menjadi satu tujuan bersama, yakni membangun Jember, dan mengelola Jember lebih baik, apa saja yang perlu di kelola, tentu banyak hal, dan secara garis besar pengelolaan itu spesifikasinya pada Sumber Daya Alam, dan Sumber Daya Manusia, dua hal tersebut merupakan barometer, apakah pemerintahan itu sudah dikatakan sukses atau tidak, tetapi tidak perlu kemudian apa yang sudah diperbuat pemerintah hari ini, menjadi justifikasi, yang terkesan salah semua.

Masing-masing kontestan memiliki visi dan misi atau blueprint bagaimana Jember kedepan? Kabupaten yang cukup luas secara geografis, bahkan didengungkan sebagai kabupaten terbesar ke 3 setelahnya kabupaten Malang, tentu ketika berbicara mengenai kos politik, hal tersebut juga cukup besar para kontestan harus mengeluarkan kocek dari sakunya.

3. Wanita

Dr. Faida MMR, perempuan pertama yang menjadi kepala daerah di Jember, ini merupakan fakta bahwa bu Faida sebagai Incumbent, sudah memiliki pemilih pasti yang tidak bisa remehkan, apalagi penantang harus melihat bagaimana kekuatan Incumbent ini di akar rumput.

Pada pencalonan tahun 2015, masih cukup kuat di ingatan, bahwa beliau memiliki 22 Janji yang akan di realisasikan, apakah sudah terealisasi semua? Jawabannya belum! Mengapa belum? Karena memang masih cukup banyak pekerjaan dalam pemerintahan Jember ini yang harus di benahi. Apakah semua itu harus di lakukan oleh eksekutif, sebagai penguasa tunggal? Jawabannya tidak, yang namanya pemerintahan disitu ada Eksekutif, legislatif, dan yudikatif, sehingga tiga elemen itu, seringkali kita dengar dengan konsep Trias politica.

Tiga elemen itu merupakan kesatuan dalam pemerintahan yang memiliki tiga dan fungsi yang berbeda, kalau legistlatif mewakili masyarakat sebagai pengawas jalannya pemerintahan, atau pelaksana dari sistem pemerintahan, maka eksekutif, sebagai pelaksana dari kebijakan yang telah ditetapkan bersama, sementara yudikatif yang memiliki pedoman secara yuridis, memiliki kewajiban untuk mengawasi dan mengontrol jalannya pemerintahan, baik legislatif maupun eksekutif.

Perempuan sebagai tonggak perubahan, memang terkadang menjadi kontroversi dan debatable, namun di era emansipasi ini, dalam aturan tata negara bahwa ada kuota 30% bagi perempuan untuk menempati jabatan-jabatan strategis, termasuk dalam kursi bupati.

Peran perempuan dalam pembangunan suatu daerah, menjadi sangat penting adanya, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sebuah pembangunan.

Perempuan atau wanita, memiliki ruang untuk berekspresi dan ikut serta membangun sebuah bangsa, dimana para pendahulu kita seperti RA. Kartini dan Cut Nyak Dien, yang juga ikut serta dalam perang mengusir penjajah Hindia Belanda.

Dalam kancah politik, perempuan juga memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mewarnai sistem pemerintahan di negeri ini, mereka juga bisa merebut kekuasaan dan mempengaruhi masyarakat atas kebijakan- kebijakannya, maka tidak heran jika rakyat masih nyaman di pimpin oleh perempuan. (f*)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments