Subscribe Us

FORMULIR PENDAFTARAN CALON PESERTA DIDIK BARU TKQ & TPQ RAUDLOTUL MUHLISIN

PENDIDIKAN MANUSIA : SEKOLAH BERBASIS CARACTER BUILDING


Manusia merupakan suatu ciptaan Tuhan yang paling sempurna, ketimbang makhluk lainnya yang ada di muka bumi ini, karena adanya manusialah hidup dan kehidupan ini ada, dan hidup berdampingan dengan makhluk lainnya. Makhluk paling lengkap mulai dari proses penciptaan sampai berproses dalam kehidupan dunia ini, tentu tidak serta merta manusia akan menjadi seperti apa yang diharapkan, ada proses sejak mulai dalam kandungan, yang hakekatnya makhluk yang bernama manusia ini bisa dididik dan dilatih untuk dipersiapkan pada kehidupan yang akan datang.

Manusia dilahirkan dengan telanjang, dengan suara tangisan yang membahagiakan bagi orang-orang disekitarnya, dari situlah manusia tersebut dikenal dengan sebutan “anak”. Anak terlahir secara fitrah atau suci, ibarat kertas putih, maka anak itu sangat polos dan hanya bisa menangis saja, maka anak itu sangat bergantung kepada lingkungan yang telah mendidiknya, apakah anak itu akan dijadikan nasrani, yahudi, atau Islam, hal tersebut juga sangat bergantung di dalam lingkungan keluarga yang melatarbelakangi anak tersebut.

Hadirnya pendidikan ditengah-tengah kita, hakekatnya sudah sejak zaman azali sudah terjadi yang namanya sebuah proses belajar mengajar, dimana seorang Ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama dalam proses perkembangan anak menjadi penentu bagi anak dalam kehidupan dimasa yang akan datang.

Apa sebenarnya hubungan antara pendidikan, sekolah dan character building, mari kita bahasa satu persatu, sehingga pemahaman kita mengenai pendidikan manusia sebagai sekolah yang berbasis pada nilai-nilai character building itu tadi.

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuanketerampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.[1] Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. (sumber: Wikipedia.org)

Pengertian Sekolah adalah suatu lembaga yang digunakan untuk kegiatan belajar bagi para pendidik serta menjadi tempat memberi dan juga menerima pelajaran yang sesuai dengan bidangnya. 

Sementara itu Caracter Building atau membangun karakter terdiri dari dua suku kata, yaitu membangun (to buid), dan Karakter (carakter), artinya membangun yang memiliki sifat memperbaiki, membina  dan mendirikan, sedangkan character adalah tabiat atau watak, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga pengertian dari Carakter Building adalah suatu proses atau usaha secara sadar yang dilakukan untuk membina, memperbaiki, atau membentuk tabiat, watak, sifat, kejiawaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat), sehingga mampu menunjukkan nilai-nilai yang baik sesuai dengan tuntunan pancasila dan agama.

Pendidikan hanya bisa diberikan kepada makhluk yang bernama manusia, sementara untuk makhluk lainnya pendidikan ini “tidak berlaku”, mengapa kami katakana demikian, karena hanya manusia yang dilengkapi dengan akal pikiran sesuai dengan fungsi dengan kegunaannya masing-masing, sementara makhluk selain manusia tentu tidak bisa dididik, hanya bisa dilatih secara terus menerus, sehingga makhluk itu tunduk kepada pelatinya.

Pendidikan hakekatnya untuk manusia saja, karena hanya dengan melalui proses pendidikan manusia akan menunjukkan potensi yang dimiliki berkat bimbingan dan arahan dari seorang guru. Pentingnya suatu pendidikan sebagai salah satu tonggak peradaban dunia, harus menjadi perhatian oleh semua pihak, baik pemerintah, guru yang mengelola pendidikan maupun wali siswa sebagai salah satu pendorong bagi berjalannya suatu proses.

Caracter Building, merupakan salah satu konsep pendidikan kita yang sudah terjadi sejak zaman penjajahan, dimana karakater kita sebagai warga Negara yang pancasilais, sudah seharusnya merenungi dan menghayati setiap kalimat yang tertera dalam pancasila sebagai symbol persatuan warganya dalam sebuah kebhinekaan.

Tugas dari pendidik, yang memiliki aktifitas dalam suatu pendidikan, memiliki tanggung jawab untuk mendidik sekaligus membentuk karakter anak didik menjadi manusia yang memiliki rasa toleransi yang tinggi, ramah, menghargai terhadap orang lain, saling menyayangi, hidup gotong-royong, dan tidak mudah menjadi manusia yang mudah di adu domba oleh berbagai kepentingan orang lain, tetangga, bahkan kepentingan antar Negara.

Membangun karakter bagi anak didik harus sudah dilakukan sedini mungkin, mengingat pendidikan karakter ini sudah mulai memudar dan di “anggap kurang penting” bagi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia, sehingga dalam konstek saat ini, tingginya kejahatan dan kriminalitas baik secara terang-terangan maupun secara samar-samar sudah bukan menjadi barang tabu lagi, dimana hal ini sudah didukung dengan perkembangan zaman yang semakin pesat dengan ditandai oleh tekhnologi yang canggih, sehingga acapkali membuat manusia seperti tidak memiliki batas nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh pada pendahulu kita.

Oleh sebab itu pendidikan karakter building ini sudah harus menjadi konsep dasar dalam proses pendidikan kita, mengingat merosotnya moralitas yang terjadi dikalangan kaum milenial menjadi suatu keprihatinan kita untuk masa depan mereka. Pemerintah, pengelola pendidikan, maupun para orang tua anak didik, tentu harus selalu melakukan kerjasama yagn baik, mengenai proses dan perkembangan anak didik di sekolah maupun di sebuah pesantren, sebab jika pembentukan karakter dalam perkembangan dan pertumbuhan anak didik salah, maka kesalahan itu akan menjadi racun bagi anak didik kita dikemudian hari, yang tentu bisa membunuh diri mereka sendiri.(f*)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments